FB Twitter Google+
<div style='background-color: none transparent;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Awal Puasa: Beda NU, Beda Muhammadiyah

Posted by Hamba Allah
Share this article on:

Muhammadiyah memutuskan awal puasa 20 Juli, sedangkan NU 21 Juli 2012.

Petugas melihat hilal di Pantai Loang Baloq, Mataram
Petugas melihat hilal di Pantai Loang Baloq, Mataram (Antara)
Hampir setiap tahun, awal puasa 1 Ramadan beberapa ormas Islam selalu berbeda. Seperti tahun ini, awal puasa berpotensi tidak serentak. Ketidakserentakan ini juga disadari dua ormas Islam besar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Muhammadiyah memutuskan awal puasa pada Jumat 20 Juli 2012, sedangkan NU kemungkinan besar jatuh pada Sabtu 21 Juli 2012.

Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan Jumat 20 Juli 2012 sebagai awal puasa tanggal 1 Ramadan 1433 H dan Hari Raya Idul Fitri pada 19 Agustus 2012 atau pada 1 Syawal 1433 H, dituangkan dalam Maklumat dengan nomor 01/MLM/I.0/E/2012. Maklumat tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Dzulhizzah 1433 Hijriyah, serta imbauan menyambut Ramadhan 1433 H. Maklumat tertanggal 15 Juni 2012 itu ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Sekretaris Umum Agung Danarto di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta. Penetapan itu berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Muhammadiyah menyadari akan adanya perbedaan penetapan awal mula Ramadan bila dibandingkan dengan organisasi lain. Maka itu, Muhammadiyah mengeluarkan imbauan khusus untuk warganya akan adanya kemungkinan perbedaan penetapan 1 Ramadan itu. Muhammadiyah mengimbau segenap warga Muhammadiyah berpegang teguh kepada hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah diminta memahami, menghargai, dan menghormati adanya perbedaan.

Untuk pertama kalinya juga, Pimpinan Pusat Muhammadiyah tidak akan mengikuti sidang isbat yang merupakan pertemuan sejumlah organisasi keagamaan dalam menentukan awal bulan Puasa atau Hari Raya Idul Fitri di Kementerian Agama. Din Syamsuddin menilai organisasinya tak perlu ikut sidang isbath yang lebih banyak berisi pikiran-pikiran subyektif pemerintah.

"Kami tidak ikut sidang isbath. Biasanya tidak ada musyawarah dan tidak ada diskusi," kata Din Syamsuddin. Selain besarnya faktor subyektifitas, Din menilai pemerintah tidak mengayomi seluruh umat Islam di Indonesia.
Terkait rencana mundurnya Muhammadiyah dalam Sidang Isbat, Din mengaku sudah mengirim surat ke Kementerian Agama. "Muhammadiyah tidak bisa menetapkan kapan satu Ramadhan, kapan satu Syawal, bahkan sampai 100 tahun yang akan datang. Karena ilmu falakh, astronomi itu ilmu pasti. Al Quran menyuruh kita untuk pandai berhitung," kata dia.

Bila Muhammadiyah melihat wujudul hilal untuk menetapkan 1 Ramadan, Nahdatul Ulama (NU) tetap dengan metode rukyatul hilal bil fi'li, yaitu melihat hilal dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik. Ketua Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, Khofifah Indar Parawansa meminta kepada umat Islam supaya saling memahami dalam hal perbedaan penentuan awal puasa. Khofifah menyadari adanya perbedaan pendekatan 1 Ramadhan antara Muhammadiyah dengan NU. "Karena pendekatannya berbeda, itu kemungkinannya penetapan berbedanya tinggi. Satu merukyat melihat, satunya wujud ada," kata Khofifah kepada VIVAnews.

Lebih lanjut dia menambahkan bahwa pendekatan-pendekatan penetapan tanggal 1 Ramadhan telah menjadi kesepakatan masing-masing organisasi massa Islam itu. "Meski berbeda yang penting saling tafahum ada kesepahaman," tegas dia. Adanya perbedaan itu, ia pun mengharapkan supaya kalangan umat Islam tetap saling menghormati dan saling menjaga kerukunan.

Menurut Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Sholeh Hayat, NU masih masih menunggu hasil rukyat bersama pemerintah. Namun, melihat posisi irtifak hilal di bawah dua derajat, NU mungkin akan menggunakan standar istikmal atau menggenapkan umur bulan Sya'ban menjadi 30 hari. Posisi irtifak hilal masuk kategori sulit dirukyat. Dengan adanya isyarat menyempurnakan umur bulan Sya'ban menjadi 30 hari, artinya 1 Ramadan berpotensi kuat ditetapkan pada Sabtu 21 Juli 2012.
Sisi Astronomis
Bagaimana pandangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyikapi ini. BMKG akan memberikan data Informasi Hilal saat matahari terbenam pada Kamis, 19 Juli 2012.  Penentuan awal bulan Ramadhan 1433 H akan menggunakan beberapa metode pengamatan, antara lain waktu konjungsi (Ijtima’) dan terbenam matahari.

BMKG akan memantau konjungsi geosentrik atau ijtima. Peristiwa ini terjadi ketika lintasan edar matahari dan bulan tepat sama. Kejadian ini akan terjadi pada hari Kamis, 19 Juli 2012, pukul 04.24 UT atau pukul 11.24 WIB atau pukul 12.24 WITA atau pukul 13.24 WIT. Saat itu matahari dan bulan bersama berada tepat pada 116,912 derajat dengan jarak sudut 4,082 derajat.

Selain waktu konjungsi, matahari terbenam juga bisa menjadi penentu. Waktu matahari terbenam dinyatakan ketika bagian atas piringan matahari tepat di titik horizon. Berdasarkan pengamatan, matahari terbenam di wilayah Indonesia pada 19 Juli 2012 paling awal terjadi pada pukul 17.35 WIT di Merauke dan paling akhir pada pukul 18.57 WIB di Sabang. Secara astronomis, waktu pelaksanaan rukyat Hilal di wilayah Indonesia adalah setelah matahari terbenam tanggal 19 Juli 2012.

sumber:VIVAnews


0 Komentar — Skip to Comment

Posting Komentar — or Back to Content